Dari Sukabumi, Ade Abdul Jalal Hadirkan RESET HATI sebagai Ruang Edukasi Digital

SUKABUMI |SKS Berawal dari pengalaman mendampingi masyarakat secara langsung, Ade Abdul Jalal kini membawa kiprahnya ke ruang digital melalui RESET HATI, sebuah platform edukasi yang membahas persoalan kehidupan, keluarga, emosi, serta refleksi spiritual.

Praktisi dan trainer yang berasal dari Sukabumi tersebut sebelumnya dikenal melalui aktivitas pendampingan masyarakat. Ia pernah terlibat sebagai praktisi sekaligus trainer di REHAB HATI FOUNDATION dan kemudian mendirikan RUMAH REHAB CIREBON sebagai ruang pelayanan serta edukasi bagi masyarakat.

Pengalaman bertemu dengan berbagai karakter dan persoalan masyarakat menjadi salah satu dasar Ade dalam mengembangkan RESET HATI.

Berawal dari Mendengarkan

Menurut Ade, persoalan yang dihadapi seseorang tidak selalu membutuhkan jawaban yang cepat. Dalam banyak keadaan, seseorang justru membutuhkan ruang yang aman untuk menyampaikan apa yang sedang dirasakan.

“Banyak orang datang bukan hanya membutuhkan jawaban, tetapi membutuhkan ruang untuk dipahami. Karena terkadang seseorang sudah terlalu lama memendam masalahnya sendiri,” ujar Ade.

Pengalaman tersebut kemudian ia bawa ke media sosial. Melalui RESET HATI, Ade berusaha menghadirkan edukasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat diakses masyarakat dari berbagai daerah.

Topik yang dibahas pun beragam, mulai dari komunikasi dalam rumah tangga, konflik pasangan, masalah kepercayaan, hubungan orang tua dan anak, persoalan emosional, hingga cara seseorang memahami dirinya sendiri.

Edukasi, Bukan Sekadar Curhat

RESET HATI tidak diarahkan hanya menjadi tempat mencurahkan masalah. Ade ingin masyarakat yang datang tidak berhenti pada tahap bercerita, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai persoalan yang sedang dihadapi.

Pendekatan yang digunakan memadukan edukasi kehidupan dengan nilai-nilai spiritual dan refleksi keislaman. Menurut Ade, memahami akar persoalan dapat membantu seseorang menentukan langkah yang lebih sehat dan bijaksana.

“Kalau seseorang hanya mengulang luka terus-menerus, dia akan semakin lelah. Harapannya setelah berada di RESET HATI, seseorang bisa memahami dirinya, melihat masalah dengan lebih jernih, dan menemukan langkah yang bisa dilakukan,” jelasnya.

Berkembang Melalui Media Sosial

Kehadiran RESET HATI di media sosial kemudian mendapat respons dari masyarakat. Dalam sekitar dua setengah bulan sejak dikembangkan secara serius melalui TikTok, akun tersebut disebut telah mencapai lebih dari 180 ribu pengikut.

Selain melalui konten, komunikasi dengan masyarakat juga dilakukan melalui sesi live. Dalam kegiatan tersebut, berbagai persoalan disampaikan secara langsung oleh penonton dari berbagai daerah.

Bagi Ade, angka pengikut bukanlah tujuan utama.

“Bagi saya, follower bukan hanya angka. Di balik satu follower ada manusia dengan perjalanan hidup, keluarga, dan masalahnya masing-masing. Itu yang membuat kita harus berhati-hati dalam memberikan edukasi,” katanya.

Tetap Memahami Batas Pendampingan

Ade juga menekankan bahwa edukasi dan pendampingan memiliki batas. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan melalui media sosial atau pendampingan umum.

Menurutnya, ketika seseorang menghadapi kondisi yang membutuhkan penanganan khusus, bantuan tenaga profesional tetap diperlukan.

“Tidak semua persoalan harus kita jawab sendiri. Ada kondisi tertentu yang memang membutuhkan bantuan profesional. Memahami batasan itu merupakan bagian dari proses pendampingan yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Membawa Semangat dari Sukabumi

Meski aktivitasnya berkembang di Cirebon dan melalui ruang digital, Sukabumi tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan Ade Abdul Jalal.

Dari pengalaman hidup dan proses mendampingi masyarakat, ia kemudian mengembangkan berbagai bentuk pelayanan hingga akhirnya menghadirkan RESET HATI sebagai ruang edukasi digital.

Perjalanan tersebut menjadi gambaran bagaimana pengalaman di lapangan dapat ditransformasikan menjadi edukasi yang menjangkau masyarakat lebih luas.

“Saya percaya setiap tempat memiliki cerita. Sukabumi adalah bagian dari perjalanan hidup saya. Apa yang saya lakukan hari ini juga tidak terlepas dari perjalanan dan pengalaman yang saya dapatkan selama mendampingi masyarakat,” ungkap Ade.

Berharap Masyarakat Tidak Merasa Sendirian

Ke depan, Ade berharap RESET HATI dapat berkembang menjadi ruang edukasi sekaligus komunitas yang memberikan manfaat lebih luas. Tidak hanya melalui konten media sosial, tetapi juga melalui berbagai kegiatan nyata di tengah masyarakat.

Baginya, keberhasilan pendampingan bukan sekadar tentang banyaknya orang yang mengikuti sebuah akun, melainkan tentang pemahaman dan perubahan positif yang dapat muncul setelah seseorang mendapatkan dukungan.

“Harapan saya sederhana. Ketika seseorang datang dalam keadaan lelah, semoga mereka bisa pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang dan memiliki harapan untuk memperbaiki kehidupannya,” pungkas Ade Abdul Jalal.

Dari Sukabumi, perjalanan Ade terus berkembang. Pengalaman pendampingan yang sebelumnya dilakukan secara langsung kini diperluas melalui ruang digital. Melalui RESET HATI, ia membawa satu pesan utama: setiap orang berhak memiliki ruang untuk memahami dirinya, menemukan harapan, dan kembali melangkah dengan lebih baik.

Red

Lebih baru Lebih lama