![]() |
| Anggota Komisi I DPR RI, Dr. Desy Ratnasari, M.Si., M.Psi., Psikolog, |
SUKABUMI |SKS— Anggota Komisi I DPR RI, Dr. Desy Ratnasari, M.Si., M.Psi., Psikolog, menggelar kegiatan Sosialisasi MPR RI, di Kafe Cikole, Sukabumi,
dengan mengangkat tema “Implementasi Nilai Bhinneka Tunggal Ika untuk Mewujudkan Kebersamaan dalam Kehidupan Masyarakat.”
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai makna keberagaman sekaligus meneguhkan komitmen bersama dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah dinamika kehidupan sosial yang semakin kompleks.
Dalam kegiatan tersebut, Desy menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dirawat bersama. Indonesia terdiri atas beragam suku, agama, budaya, bahasa, serta latar belakang sosial yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa, Selasa (29/9/26).
Menurutnya, perbedaan bukanlah alasan untuk membangun sekat di tengah masyarakat. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan, menumbuhkan toleransi, serta membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
“Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan yang tertulis di lambang negara, tetapi harus menjadi nilai yang kita praktikkan dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan, bukan menjadi alasan untuk saling menjauh,” ujar Desy.
Ia menekankan, penerapan nilai Bhinneka Tunggal Ika harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, serta mengedepankan dialog dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat. Dengan demikian, perbedaan pandangan maupun latar belakang tidak berkembang menjadi konflik yang dapat mengganggu kerukunan.
Desy menjelaskan, implementasi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, kemudian berkembang di sekolah, tempat kerja, hingga kehidupan bermasyarakat.
Menghargai pendapat orang lain, menghindari tindakan diskriminatif, menjaga kerukunan, serta membangun komunikasi yang baik merupakan langkah nyata dalam menghidupkan semangat persatuan.
“Ketika kita mampu menghargai perbedaan, kita sedang menjaga persatuan. Kebersamaan tidak berarti kita harus memiliki pandangan yang sama, tetapi bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan saling menghormati,” katanya.
Tangkal Polarisasi, Perkuat Literasi Digital
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan media sosial, Desy juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang berpotensi memecah belah persatuan.
Arus informasi yang begitu cepat menuntut masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Karena itu, literasi digital dan kemampuan memverifikasi kebenaran informasi menjadi hal penting guna mencegah berkembangnya kesalahpahaman, ujaran kebencian, serta konflik sosial.
Masyarakat diharapkan tidak langsung mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terlebih jika berpotensi menimbulkan permusuhan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Menurut Desy, semangat Bhinneka Tunggal Ika semakin relevan di tengah masyarakat yang semakin terbuka dan terhubung. Perbedaan harus dikelola secara bijaksana agar menjadi modal sosial dalam membangun kehidupan yang damai, inklusif, dan saling menghargai.
Persatuan, lanjutnya, tidak harus dibangun dengan menyeragamkan seluruh pandangan masyarakat. Justru, persatuan akan semakin kuat ketika setiap individu mampu menerima perbedaan dan menempatkan kepentingan bersama di atas sikap saling mempertentangkan.
Melalui kegiatan Sosialisasi MPR RI tersebut, Desy berharap masyarakat tidak hanya memahami makna Bhinneka Tunggal Ika secara konseptual, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Persatuan Indonesia harus kita jaga bersama. Dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menghormati tetangga, menghargai perbedaan, membantu sesama, dan menjaga komunikasi yang baik. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah kebersamaan dan persatuan dapat terus tumbuh,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau tokoh masyarakat, melainkan tanggung jawab seluruh elemen bangsa.
Dengan mengamalkan nilai Bhinneka Tunggal Ika, masyarakat diharapkan mampu menangkal polarisasi, memperkuat solidaritas sosial, serta menjaga api persatuan Nusantara agar tetap menyala di tengah keberagaman Indonesia.
Hery Setiawan|Red
